Belajar Candlestick Crypto: Begini Cara Membacanya dengan Benar
- nanovest
- 28 Jun 2022
- 3 menit membaca

Candlestick adalah salah satu strategi yang bisa kamu gunakan untuk mengambil keuntungan dari investasi aset crypto. Metode ini awalnya banyak digunakan oleh trader saham, tapi bisa juga diaplikasikan pada trading aset crypto. Sebelum memulai trading crypto, yuk ketahui dulu pengertian, asal usul, cara membaca, dan jenis-jenis candlestick dalam artikel berikut ini!
Apa Itu Candlestick Crypto?
Candlestick crypto adalah sebuah metode analisis harga yang menggunakan grafik untuk menggambarkan pergerakan harga kripto dari waktu ke waktu. Mungkin kamu sering mendengar istilah ini dalam trading saham, tapi metode ini juga berlaku dalam melakukan trading crypto. Dalam grafik candlestick terdiri dari beberapa bagian untuk menandai posisi harga , yaitu:
Pembukaan atau open
Penutupan atau close
Tertinggi atau high
Terendah atau low
Grafik candlestick ini dapat membantu trader untuk membaca kondisi harga saat ini, sekaligus memprediksi harga di masa depan. Pasalnya, candlestick bisa memprediksi terjadinya bullish (penguatan harga) dan bearish (pelemahan harga) yang menjadi petunjuk apakah trader harus membeli atau menjual kripto. Jika pasar sedang bullish, umumnya trader akan menjual aset yang ia miliki. Sebaliknya, jika harga sedang bearish, trader membeli aset karena harganya sedang rendah.
Asal Usul Candlestick
Sejarah candlestick berawal pada abad ke-17. Saat itu, seorang pengusaha beras asal Jepang, Munehisa Homma, berusaha mencatat pergerakan harga beras dari waktu ke waktu menggunakan grafik candlestick. Tujuannya adalah untuk memprediksi harga beras di masa depan yang berguna untuk mengambil keputusan bisnisnya.
Tak hanya menyusun grafik candlestick, Himma juga menganalisis transaksi beras untuk memahami psikologis para trader. Ia menyadari bahwa psikologis investor tersebut akan mempengaruhi permintaan dan penawaran beras yang akhirnya berpengaruh pada pergerakan harga.
Homma adalah anak bungsu dari pengusaha kaya jepang yang meneruskan bisnisnya di tahun 1850. Akibat konsep grafik candlestick yang ia gunakan, Homma dikenal sangat piawai dalam memprediksi pergerakan pasar. Ia bahkan dijuluki sebagai āGod of The Marketā.
Grafik candlestick akhirnya dibawa oleh Steve Nison lewat bukunya yang berjudul āJapanese Candlestick Charting Techniquesā ke Barat. Konsep ini kemudian diadopsi oleh Charles Dow dan ia terapkan di pasar saham Amerika Serikat.
Cara Membaca Candlestick Crypto
Meskipun istilah candlestick cukup populer di kalangan trader, masih banyak yang belum memahami cara membacanya. Simak langkah-langkah cara membaca candlestick crypto berikut ini, yuk!
1. Memahami Komponen Candlestick
Komponen candlestick terdiri dari badan (body) yang menggambarkan harga pembukaan dan harga penutupan. Selain itu, ada juga ekor atau sumbu (shadow atau wick) yang menggambarkan harga tertinggi dan harga terendah dalam periode tertentu.
Warna candlestick terdiri dari dua warna, yaitu bisa hitam maupun putih, atau merah dan hijau. Kedua warna tersebut merepresentasikan kondisi psikologis pasar. Jika permintaan terhadap crypto sedang tinggi (harga naik), maka akan diwakili oleh warna putih atau hijau. Sebaliknya, jika permintaan sedang rendah (harga turun), maka akan diwakili oleh warna hitam atau merah.
Naiknya harga ditandakan dengan harga penutupan saham lebih tinggi dibandingkan dengan harga pembukaan. Sementara itu, harga yang turun berarti harga penutupan saham lebih rendah daripada harga pembukaan.
Selain warna, kamu juga bisa mengidentifikasi ukuran candlestick. Semakin panjang body candle, maka semakin tinggi permintaan dan penjualan, semakin pendek body candle, maka semakin kecil juga permintaan dan penjualan.
Untuk bagian ekor, semakin panjang ekor candle, maka ada transaksi yang melebihi harga penutupan dan pembukaan di hari tersebut. Sementar, semakin pendek ekor candle, maka nilai perdagangan yang terjadi tidak jauh dari harga pembukaan dan harga penutupan.
2. Memahami Pola-Pola Candlestick
Lantas, bagaimana membaca komponen candlestick tadi dan menyimpulkannya? Dalam analisis teknikal, terdapat pola-pola candlestick yang bisa bantu kamu mengambil kesimpulan. Berikut penjelasannya!
Marubozu
Pola candlestick yang satu ini terjadi apabila body penuh tanpa memiliki ekor. Ini artinya, pasar sedang yakin (confident) dan tren yang sedang terjadi akan terus berlanjut. Terdapat dua jenis Marubozu, yaitu Marubozu Black (harga turun) dan Marubozu White (harga naik).
Doji
Pola Doji adalah posisi di mana body candle hanya berbentuk garis tipis di antara ekor. Artinya, harga pembukaan hampir sama dengan harga penutupan. Jika muncul grafik Doji, umumnya akan terjadi pergantian atau pembalikan arah tren, entah itu harga jadi naik atau jadi turun. Semakin panjang ekor, maka semakin tinggi juga potensi pembalikan arahnya.
Hammer
Hammer adalah pola candlestick yang berbentuk seperti namanya, palu. Jadi, candle hanya memiliki satu ekor saja. Pola ini mengindikasikan terjadinya reversal atau pembalikan arah harga. Kebalikan dari hammer adalah inverted hammer.
Engulfing
Engulfing digambarkan dengan candle pendek diikuti candle lebih panjang. Jadi, tinggi candle selanjutnya menutupi candle sebelumnya. Arti dari pola ini adalah adanya indikasi reversal yang cukup kuat. Terdapat dua jenis Engulfing, yaitu Bullish Engulfing dan Bullish Engulfing.
Itulah beberapa langkah untuk membaca candlestick. Cukup mudah, bukan? Jika sudah cukup paham, kamu bisa mulai praktik berinvestasi di aset kripto lewat aplikasi Nanovest. Caranya, kamu tinggal download aplikasinya lewat App Store atau Play Store. Mudah banget, kan?


Komentar